Asri Wijayanti

“Seni botani?” Mungkin Anda mengernyitkan kening ketika mendengar istilah ini.

Anda tidak sendirian. Seni botani memang masih terdengar asing bagi kebanyakan orang di Indonesia. Ini wajar, karena usia seni botani di negara kita memang masih sangat “muda” bila dibanding seni botani di negara-negara Eropa. Saat ini, seniman dan ilustrator botani di Indonesia pun belum banyak jumlahnya. Kabar baiknya, organisasi seniman botani Indonesia, Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) sudah berdiri November 2017 lalu, dan anggotanya  terus bertambah.

Diskusi bertema “Seni Botani dan Keanekaragaman Flora Indonesia” yang diadakan oleh IDSBA di Gedung Samida Kebun Raya Bogor pada 18 Mei 2018 lalu mengajak masyarakat mengenal dan memahami aliran seni ini.

“Sejak dulu, tumbuhan sudah sering tampil dalam karya seni visual Nusantara. Kita bisa menemukannya di relief di candi-candi, motif kain batik, hingga tenun dan anyaman. Bahkan, leluhur kita pun menitipkan simbol-simbol dan mitos-mitos ke dalam motif-motif tersebut.”, ungkap Jenny A. Kartawinata, seniman botani senior sekaligus salah satu pendiri IDSBA.

Namun, lukisan bunga atau tumbuhan tak serta-merta bisa disebut sebagai lukisan botani. “Seni botani adalah sebuah genre seni lukis yang memadukan kajian botani dan seni lukis.”, jelas perempuan yang membidani penerjemahan buku “Flora Pegunungan Jawa” karya Van Steenis ke dalam Bahasa Indonesia ini. Lebih dari sekedar lukisan bunga, objek lukisan botani bisa mencakup semua bagian tumbuhan, mulai dari daun, biji, buah, bunga, perawakan keseluruhan tumbuhan, hingga detail-detail rinci lainnya. 

“Setiap detail itu harus akurat secara ilmiah botani, dan memiliki nilai estetika yang mampu menggetarkan hati orang melukis maupun yang melihatnya.”, tegas Jenny. Tak heran, untuk memilih lukisan yang layak tampil dalam sebuah pameran seni botani, lazimnya diperlukan tim seleksi yang terdiri dari kurator seni rupa, ahli botani dan seniman botani.

Suwarno Wisetrotomo, Kurator Galeri Nasional Indonesia sekaligus staf pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menegaskan bahwa watak seni botani adalah “dingin, tertib, cermat, dan terpaku pada objeknya”. Ini membuat karya seni botani berbeda dengan karya seni rupa modern/kontemporer yang lebih bebas. “Bila dalam aliran seni rupa yang lain sifat dingin, tertib dan cermat ini bisa menjadi suatu kelemahan, justru dalam seni botani ini adalah suatu kelebihan, karena untuk dapat menciptakan sebuah karya seni botani, dibutuhkan riset, pengetahuan yang dalam tentang tumbuhan yang dilukis, ketelitian, dan keahlian melukis yang sangat baik.”

Dari sisi sains/ilmu botani, Destario Metusala, Botaniwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyampaikan bahwa meski saat ini tumbuhan sudah bisa didokumentasikan kamera, lukisan botani masih sangat bermanfaat untuk pendeskripsian taksa, spesies baru, atau variasi dari suatu spesies. “Lukisan botani juga sangat membantu untuk memberi pemahaman yang lebih baik mengenai karakter tumbuhan… karena lukisan botani mampu menggambarkan karakter-karakter yang diperoleh dari pengamatan langsung, yang bisa jadi tidak tertangkap oleh foto”.

Agar lukisan botani bisa memberi manfaat yang diharapkan, Destario mengingatkan agar lukisan botani memperhatikan keakuratan proporsi, skala dan kombinasi warna, kelengkapan organ-organ kunci atau karakter khas tanaman, dan cukup informatif.

“Sebaiknya seniman botani memiliki pengetahuan umum botani, terutama taksonomi dan morfologi tanaman yang diamati, dan terus memperkaya wawasan botaninya melalui literatur, atau diskusi dan komunikasi dengan pakar tumbuhan terkait.” Dengan demikian, menurut Destario, seniman botani bisa terus meningkatkan keakuratan karya sehingga karya seni botaninya juga bernilai ilmiah tinggi.

Dari sudut pandang konservasi, Puji Sumedi dari Yayasan Kehati menceritakan pengalaman Yayasan Kehati ketika menyusun materi edukasi tentang keanekaragaman flora dan fauna Nusantara untuk anak-anak. Ia menggarisbawahi perlunya illustrator yang memahami beragamnya flora dan fauna nusantara, agar masyarakat dari segala usia memiliki pengetahuan yang baik tentang keanekaragaman hayati.

Sembari menunjukkan malai-malai sorghum beraneka warna hasil panen masyarakat di NTT, Puji membentangkan selendang-selendang yang dibawanya.  Selendang itu berlukiskan sorghum, bambu, dan mangrove: tiga jenis tanaman yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok masyarakat dampingan Yayasan Kehati.

“Seni botani bisa menjadi cara yang manis untuk mempromosikan keanekaragaman hayati. Kita bisa bercerita tentang indahnya alam, keragamannya, dan menumbuhkan rasa sayang dan keinginan untuk melestarikannya melalui karya-karya yang indah dan menyentuh hati seperti ini.”

error: Content is protected !!