Article

14 August 2018

Seni Botani

Penulis:
Jenny A. Kartawinata
Pemerhati Seni Botani

Seni lukis botani adalah sebuah genre seni lukis yang merupakan paduan kajian botani
(sains) dan seni (lukis). Di Indonesia, sebenarnya sudah sejak dahulu kala tumbuhan
menjadi rujukan ungkapan seni, khususnya seni visual. Panel-panel relief pada kaki candi
Borobudur menampilkan keaneka-ragaman hayati Jawa pada saat itu (abad IX Masehi).


Ragam hias wastra Nusantara, khususnya batik Jawa klasik, mengangkat indahnya
tetumbuhan . Baik dalam tampilan corak maupun namanya, misalnya: Kawung
(penampang buah aren, Arenga pinnata), Truntum (tampak depan bunga jeruk), Ceplok
Kembang Cengkeh (rangkaian bunga Cengkih, Syzygium aromaticum), dll. Tetumbuhan
air pun jadi inspirasi, salah satunya adalah Ganggong (Cryptocoryne ciliata) misalnya
dalam corak Ganggong Sari (kepala putik Ganggong).


Pengaruh budaya Belanda pun muncul dalam ragam hias batik, yaitu corak buketan
( bouquette atau karangan bunga) yang menampilkan bunga-bunga dan tanaman Eropa
(Belanda) seperti bunga tulip, narsis, violet, buah anggur dll. Tetumbuhan pun tampil
dalam corak ragam hias anyaman, tenunan, dan berbagai tekstil tradisional Nusantara.

Gambar Botani

Gambar tumbuhan tampil tidak sebatas dalam karya tekstil dan kriya. Dalam bidang
sains pun gambar itu berperan penting untuk mengungkap sebuah subyek kajian. Khusus
dalam kajian botani, gambar-gambar tumbuhan dan bagian-bagiannya yang akurat,
tepat, dan rinci sangat diperlukan untuk melengkapi uraian tertulis dan contoh
awetannya. Lazimnya gambar seperti ini dibuat dalam wujud ilustrasi hitam-putih
menggunakan tinta dan pena. Bentuk dan dimensi diciptakan dengan garis dan titik.
Detail tumbuhan bagian apa saja dapat ditampilkan sesuai keperluan pakar botani yang
memesannya. Banyak orang berpendapat bahwa ilustrasi hitam putih seperti ini adalah
gambar teknis. Dipercaya bahwa ilustrasi lebih kaya informasi dibandingkan sebuah foto
sekalipun. Boleh dikata bahwa ilustrasi botani punya nilai estetika tersendiri yang tidak
kalah indahnya dengan karya lukis lain.

Tidak selalu para botaniwan menyerahkan upaya menggambar tampilan tumbuhannya
kepada juru gambar (ilustrator). Dr Tomitaro Makino (1862-1957) yang dikenal sebagai
‘Bapak Botani Jepang”, adalah seorang botaniwan mumpuni yang sangat berbakat
menggambar. Beliau mengkhususkan diri mempelajari tetumbuhan asli Jepang dan
menggambar sendiri ilustrasinya. Hasil penelitiannya dirangkum dalam berbagai buku,
salah satunya adalah Icones Florae Japonicae (1900), buku taksonomi tumbuhan asli
Jepang lengkap dengan ilustrasinya karya Dr. Makino sendiri. Nama Makino diabadikan
sebagai nama sebuah kebun botani di Kochi, Jepang.

Dengan jujur harus kita akui bahwa kajian botani di Indonesia masih cukup ‘remaja’
dibandingkan di negera-negara maju. Para botaniwan anak bangsa Indonesia angkatan
pertama baru mulai dididik pada tahun 1955. Sebelum itu, kajian botani di Indonesia

Ikatan Batin

Sir William Jackson Hooker (1785-1865), pakar botani Inggris yang pernah menjabat sebagai Direktur Kebun Botani Kew, Inggris, adalah seorang seniman gambar yang tekun. Sebagian besar data tetumbuhan yang ditelitinya, dilengkapi ilustrasi karyanya sendiri. Hooker menyarankan agar para botaniwan menggambar sendiri ilustrasi tumbuhan yang sedang dipelajari. Menurut pengalamannya, dengan demikian akan timbul ikatan batin antara tumbuhan itu dengan sang peneliti. Pengalaman yang sangat bermanfaat bagi yang bersangkutan, baik sebagai pribadi maupun ilmuwan. Akhir-akhir ini baik para pelukis botani maupun para botaniwan mengakui bahwa seni lukis botani adalah bagian dari kajian botani itu sendiri. Salah satu bagian atau divisi kajian botani yang dulu belum sempat muncul dan tumbuh-kembang …


Rangkuman lukisan botani yang mengungkap flora suatu kawasan disebut florilegium. Kebun-kebun botani di mana saja, baik yang milik pribadi atau lembaga, lazim menyususn florilegium koleksi tumbuhannya. Sayang hingga sekarang belum dijumpai florilegium khas tumbuhan Indonesia. Dunia mengenal buku Fleurs, fruits et feuillages choisis de la flore et de la pomone de l’Ile de Java, peints apres nature (1864), yang memuat rangkuman karya lukis botani Berthe Hoola van Nooten (1840-1885). Obyek lukisannya adalah tetumbuhan di Jawa abad XIX dalam tata warna cemerlang. Buku ini dianggap sebagai ‘semacam’ florilegium Jawa, dan menjadi buku klasik yang sudah sangat langka. Lukisan aslinya dilelang di sebuah balai lelang papan atas dan mencapai
harga luar biasa mahal. Rangkuman lukisan botani karya juru gambar yang anak bangsa Indonesia adalah buku Flora Pegunungan Jawa (2006). Juru gambarnya adalah Amir Hamzah dan Moehamad Toha, keduanya sudah almarhum sekarang. Naskah aslinya dalam Bahasa Inggris, disiapkan oleh C.G.G.J. van Steenis di abad yang lalu, berjudul The Mountain Flora of Java. Abad XXI menampilkan The Highgrove Florilegium (2008), sebuah florilegium yang merekam lukisan tumbuhan dalam taman Highgrove House, puri kediaman Pangeran Charles dari Inggris. Lukisan-lukisannya merupakan karya para pelukis botani sedunia yang diundang berdasarkan seleksi ketat.


Di kalangan komunitas botani dikenal nama The Hunt Institute for Botanical Documentation, di kota Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat. Lembaga swasta ini menyimpan dan mengolah koleksi lukisan botani dari seluruh dunia sejak abad yang lalu. Hanya lukisan bermutu tinggi yang terpilih menjadi koleksinya. Salah satu lukisan koleksi barunya (2016) adalah lukisan berjudul The Old and the Young I, Anggrek Kasut (Paphiopedilum praestans) karya Eunike Nugroho, pelukis botani mumpuni dari Indonesia. Sebuah capaian yang mengharumkan nama Indonesia.

Mengungkap Batin

Bagaimana di Indonesia? Dunia masakini yang tak berbatas membuat semua mudah diakses, semua saling terhubung dan terdampak. Seni lukis botani yang semula samar dikenal di Indonesia, mulai diminati generasi muda sekarang ini. Kekayaan alam hayati yang memukau, pesona keindahannya yang belum banyak terungkap, menjadi modal tak ternilai bagi seni lukis botani di Indonesia.


Pengenalan tumbuhan dan bagian-bagiannya memang merupakan tuntutan tak terbantahkan untuk pelukis botani. Juga penguasaan teknik lukis dengan cat air yang sampai sekarang dipercaya paling tepat untuk media lukis botani. Teknologi pun sangat menunjang. Perlengkapan lukis seperti kertas khusus, cat air, kuas, alat pindai, alat bantu lain dsb. semakin hari semakin bermunculan. Menjelajah relung-relung bentang alam Nusantara sudah menjadi gairah generasi masakini Indonesia.


Sambung rasa dengan alam sekitar membangkitkan getar hati untuk menangkap dan merekamnya dalam lukisan botani. Penyajiannya bersisi jamak, yang indah bernilai estetika tinggi, dan dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Lukisan yang menuturkan kisah paduan mesra antara sains dan seni.