Seni Botani Indonesia, Bogor 1945 – 1980 (wwr2n-1)
Catatan dari pengalaman dan pengamatan pribadi.
Jenny A. Kartawinata

Selarik Garis Waktu

Mengawali paparan ini, saya mengajak Anda mundur sedikit dalam lorong waktu sejarah Indonesia. Mari kembali berada pada tahun 1942. Pada waktu itu Perang Dunia II masih sedang berkecamuk di seluruh dunia. Di kawasan Asia, Jepang cepat sekali menguasai Asia Tenggara. Singapura, yang dianggap punya pertahanan tangguh dukungan Inggris Raya, jatuh ke tangan Jepang di bulan Februari 1942, lebih cepat dari perkiraan. Dan segera setelah itu tentara Jepang muncul di mana-mana di Asia Tenggara. Di Hindia Belanda, Bala Tentara Jepang terkenal berperilaku kejam dan merusak. Harta benda dan hasil bumi penduduk dirampas dan diangkut ke Jepang untuk keperluan perang. Kebun-kebun tanaman komoditas (karet, kina, kopi, pala dan teh) banyak yang ditebang untuk dijadikan landasan pesawat terbang atau ditanami tanaman pangan. Terutama yang letaknya strategis dari sudut pandang peperangan. Tersiar wacana bahwa ‘s Lands Plantentuin Buitenzorg ( sekarang : Kebun Raya Bogor) akan dialih fungsikan. Semua pohonnya akan ditebang habis. Kayunya untuk kepentingan perang. Lahannya akan ditanami tanaman pangan untuk kepentingan Bala Tentara Jepang. Pada tahun 1942 itu tercacat koleksi tanaman ‘s Lands Plantentuin Buitenzorg sebanyak sekitar 10.000 spesimen hidup. Semasa Hindia Belanda, ‘s Lands Plantentuin Buitenzorg dikelola oleh para ilmuwan Belanda atau yang dipekerjakan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda. Ketika Perang Dunia II mulai menyentuh Asia Tenggara, dalam keadaan darurat, para ilmuwan itu berperan sebagai militer cadangan Kerajaan Belanda. Karena itu, ketika Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang, mereka semua ditahan sebagai tawanan perang. Belum ada bumiputera Nusantara yang berpendidikan cukup tinggi dalam bidang biologi/botani pada waktu itu. Memang cukup banyak tenaga bumiputera yang bekerja di ‘s Lands Plantentuin Buitenzorg. Paling tinggi jabatan mereka sebatas tenaga asisten, atau pada masa itu lazim disebut dengan istilah ‘mantri’. Namun, sejarah mencatat sebuah keajaiban. Pada pertengahan 1942, tiba di Bogor serombongan perwira militer Jepang. Sebagian besar dari mereka adalah pakar2 botani yang mengemban tugas khusus dari Kaisar Jepang. Di antaranya adalah Jendral Ryozo Kanehira, seorang profesor botani taksonomi. Tugas khusus yang diembannya adalah melestarikan aset hayati ‘s Lands Plantentuin Buitenzorg beserta para ilmuwannya dan tetap mempertahankan kegiatan ilmiahnya. Menyusul kemudian tiba pula Jendral Takenoshin Nakai, seorang profesor botani taksonomi yang sudah purnabakti. Nakai menjabat sebagai Kepala ‘s Lands Plantentuin Buitenzorg. Kanehira menjabat sebagai Kepala Herbarium Bogoriense, Bibliotheca Bogoriensis dan Museum Zoologicum Bogoriensis. Para ilmuwan Jepang dan Belanda sudah saling kenal dan banyak bekerjasama sejak jauh sebelum Perang Dunia. Banyak ilmuwan Jepang yang berdinas sebagai perwira sudah pernah berkunjung dan mengerjakan penelitian di Jawa dan Sumatra. Maka mulailah dicari di mana saja para ilmuwan Belanda ditawan. Ternyata tersebar di berbagai kota. Yang di luar Bogor, dipindahkan ke kamp2 tawanan di Bogor. Kemudian setiap hari para ilmuwan dijemput prajurit Jepang dari kamp tawanan untuk berkegiatan ilmiah di ‘s Lands Plantentuin Buitenzorg, Herbarium Bogoriense, Bibliotheca Bogoriensis dan Museum Zoologicum Bogoriensis. Selama jam kerja, mereka bekerja bersama sebagai sesama rekan ilmuwan. Jam kerja usai, kembali ke kamp tawanan. Kembali sebagai penakluk dan tawanan. (komunikasi pribadi) Keterangan Prof. H. C. D. de Wit, salah seorang ilmuwan botani Belanda yang mengalaminya: …pagi-pagi prajurit Jepang menjemput kami di kamp tawanan di Kedung Halang (Bogor). Kami berjalan kaki ke Herbarium dengan di kawal. Di Herbarium kami bekerja rutin, menulis laporan ilmiah, mengelola spesimen herbarium, diskusi (juga dengan rekan2 Jepang) dsb. sampai sore. Kembali ke kamp tawanan dikawal prajurit. Begitu setiap hari. Sangat beda dengan kehidupan nyata dalam kamp tawanan yang serba kekurangan. Kurang makanan, sanitasi dll. Banyak tawanan yang sakit dan meninggal. Sesekali pembantu rumahtangga kami datang menjenguk. Melaporkan bagaimana keadaan di rumah kami. Diam2 menyelundupkan singkong, ubi, pisang …” Tidak semua ilmuwan Belanda ‘beruntung’ dipekerjakan kembali seperti itu. Prof. A. J. G. H. Kostermans berdinas di Bosbouw (Kehutanan). Karena itu tidak terjangkau oleh kebijakan yang diterapkan di Herbarium Bogoriense. Kostermans termasuk dalam rombongan tawanan perang dari Hindia Belanda yang diangkut ke Birma untuk mengerjakan Jembatan Sungai Kwai. Kostermans adalah dokter (lazim dipanggil “Dok”) dan pakar taksonomi tumbuhan. (komunikasi pribadi) Penuturan Kostermans : … “ rombongan dari Hindia Belanda terdiri atas tawanan perang, heiho dan romusha. Kondisi kamp tawanan serba kekurangan. Banyak yang jatuh sakit. Penyakit kulit, busung lapar (beri-beri), kolera, malaria, batuk2 dll. Saya berusaha mengumpulkan tumbuhan obat untuk mengatasinya…. Lumayan membantu, tapi tetap banyak yang tidak tertolong.” Kisah para tawanan perang membangun jembatan Sungai Kwai dirangkum menjadi sebuah novel berjudul The Bridge on the River Kwai , yang terbit tahun1960-an. Hollywood mengangkatnya menjadi sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Lagu The Bridge on the River Kwai, lagu tema film itu, populer di mana-mana termasuk di Indonesia. Jendral Nakai dan Jendral Kanehira berkerja keras mengaktifkan kembali kehidupan ilmiah di ‘s Lands Plantentuin Buitenzorg. Nama lembaga ini diubah menjadi nama Jepang dan Indonesia seperti tertera dalam cap resminya (lihat gambar). Bogoru Shoku Butsu En = Bogor Botanic Garden = Kebon Raja Bogor ( shoku butsu = tumbuhan; en = taman) Mengapa dinamakan Kebon Raja (ejaan lama; sekarang : Kebun Raya) ? Tidak dapat saya peroleh keterangan tentang hal ini. Namun, banyak yang berpendapat karena ukurannya yang amat besar, maka disebut Kebon Raja (ejaan lama). Kata ‘raja’ diartikan ‘amat besar’, seperti dalam Indonesia Raya. Masyakarat sekitar pada masa lalu menyebutnya Kebon Besar atau Kebon Ageung (Bahasa Sunda). Ada juga yang menyebutnya Kebon Radja (ejaan lama; kebun milik raja) karena berdampingan dengan istana. Mengapa tidak disebut Kebun Botani? Boleh jadi karena kata botani masih asing di perbendaharaan kata masyarakat waktu itu… Apakah sebenarnya Kebon Raja Bogor ini ??? Kebun ini punya ikatan dengan Istana Buitenzorg (Bogor). Istana Buitenzorg semula dibangun sebagai kediaman Gubernur Jendral Hindia Belanda yang terletak di luar Batavia. Bangunan kediaman ini dirancang mengikuti gaya arsitektur Eropa pada masa itu, termasuk taman istana sekelilingnya. Diberi nama Buitenzorg yang artinya kurang lebih “santai-nyaman tanpa beban” , melambangkan fungsinya sebagai wisma tetirah atau rumah peristirahatan. Di Eropa pada waktu itu yang sedang naik daun adalah taman dengan penataan alami (natural). Topografi dipertahankan apa adanya, tetumbuhan ditanam pada titik-titik yang secara alami sesuai, bentuknya dibiarkan bebas seperti di alam. Tidak ada topiari (pohon yang dibentuk khusus, misalnya berupa kelinci atau ikan dolfin) atau penataan kelompok tanaman bercorak geometris. Agar manusia sebagai unsur alami dapat tertampung dalam rancangan, dibuatlah jalan untuk akses ke dalam maupun di dalam taman. Desain taman seperti inilah yang dirancang untuk taman Istana Buitenzorg. Raja Willem I, raja Belanda, pemilik Hindia Belanda, punya gagasan yang unik. Raja ingin mengetahui kekayaan hayati milik pribadinya di kawasan yang jauh itu. Tentang rempah2 Hindia Belanda, sudah lumayan banyak infonya. Bagaimana dengan kekayaan hayati yang lain? Apa saja kandungan buminya, emas, perak, tembaga, nikel, batubara, minyak, bahkan mungkin intan ? Perairannya dan gunung-gunungnya? Maka raja memerintahkan untuk memanfaatkan lahan yang bersebelahan dengan istana Bogor sebagai kebun koleksi contoh2 tetumbuhan yang bermanfaat dari Hindia Belanda. Bukan sebuah kebun atau taman untuk pelesiran, tetapi sebuah kebun ilmiah (kebun botani) tempat mempelajari tetumbuhan pilihan seutuhnya yang dihimpun dari seluruh Hindia Belanda. Gagasan Raja mulai dinyatakan pada 1817. Sejak itulah mulai dirancang, dilaksanakan tumbuh-kembangnya kebun ini yang diberi nama ‘s Land’s Plantentuin te Buitenzorg” (terjemahan bebas : Taman Tetumbuhan Kerajaan di Buitenzorg) . Perlahan tetapi pasti, kebun yang digagas raja ini tumbuh menjadi pusat pengkajian ilmiah tumbuhan tropis yang berperan global. Dilengkapi sebuah herbarium untuk menghimpun koleksi awetan tumbuhan, dan sebuah perpustakaan untuk menghimpun koleksi rujukan ilmiah. Lembaga ini dijuluki para peneliti sedunia sebagai surganya penelitian tumbuhan kawasan tropis Asia… Jepang tidak lagi menggunakan sebutan Buitenzorg, tetapi menggantinya dengan Bogor. Kata Bogor diyakini sebagai kata Bahasa Sunda lama yang artinya : tunggul pohon kawung (Arenga pinnata), dan sudah digunakan untuk nama kawasan Bogor sekarang sejak 5 abad yang lalu. Sejak semula berdiri, nama2 Latin untuk lembaga2 pun memakai Bogor, bukan Buitenzorg, misalnya Herbarium Bogoriense, Bibliotheca Bogoriensis, Muzeum Zoologicum Bogoriensis, Hortus Botanicus Bogoriensis, dll. Juga untuk nama2 terbitan ilmiah seperti Annales Bogoriensis, Iconnes Bogoriensis dll. Nakai dan Kanehira berhasil memicu kembali kegiatan ilmiah lembaganya. Bahkan terbitan ilmiah Bulletin du Jardin Botanique Buitenzorg dapat terbit kembali pada tahun 1944. Dilengkapi sebuah sisipan buklet dalam bahasa dan aksara Jepang : Bogoru Shoku Butsu Gaku Iho (Jurnal Ilmu Tumbuhan Bogor). Terbitan ilmiah ini dicetak di Bogor. Buletin (jurnal) ilmiah ini memuat tulisan2 ilmiah taksonomi tumbuhan Nusantara. ( Saya mencoba mencari jurnal yang amat menarik ini, baik di berbagai perpustakaan di Indonesia maupun titip pesan pada teman-teman di Jepang, tetapi sampai sekarang belum menemukannya. ) Catatan Nyonya van Steenis-Krusseman: …” dapat bekerja kembali di Herbarium pada waktu itu sungguh berkesan. Bahkan menyenangkan. Saya tidak lagi harus berurusan dengan berbagai keruwetan administrasi, surat-menyurat dengan Leiden, pertanggungjawaban keuangan dsb. Hanya fokus menulis dan menulis tanpa terganggu. Tenang dan produktif !” … Keadaan yang amat khusus itu tidak berlangsung lama. Agustus 1945 Perang Dunia II berakhir. Jepang menyerah kepada Sekutu. Hindia Belanda menjadi Republik Indonesia yang merdeka! Namun, tidak berarti kehidupan sehari-hari segera membaik. Malahan sebaliknya. Peralihan kekuasaan dari Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia kepada Republik Indonesia yang baru lahir, tidak berjalan mulus. Kerusuhan terjadi di mana-mana sepanjang 1945 – 1949, termasuk di Bogor. Sentimen anti Belanda dan anti Jepang nyaris tak terkendali dengan akal sehat. Pada suatu hari di tahun 1948, terpicu sentimen itu serombongan pemuda pejuang Indonesia mendatangi Herbarium Bogoriense dengan tujuan untuk membakarnya ! Sering terlihat orang2 Belanda keluar-masuk gedung itu dan berkegiatan di sana. Dan orang2 Jepang pun berkantor di sana. Para pemuda mengira gedung itu adalah markas Belanda dan Jepang. Namun, keajaiban terjadi sekali lagi. Dengan tergopoh-gopoh dua orang pria muda Indonesia berlari keluar menemui para pemuda pejuang di luar gedung. Kedua pria muda itu adalah Moehamad Toha dan Nedi. Toha menjelaskan bahwa Herbarium Bogoriense adalah lembaga ilmiah milik Republik Indonesia. Dan Toha-lah yang bertanggung-jawab di lembaga itu. Nedi cepat-cepat mengibarkan bendera Merah Putih di tiang bendera di depan gedung. Selamatlah Herbarium Bogoriense hingga sekarang. Pada waktu itu koleksi spesimen awetan Herbarium Bogoriense berjumlah kira-kira 1 juta spesimen. Hasil kerja keras selama lebih dari satu abad. (Kisah tentang peristiwa ini saya dengar dari bincang2 di Herbarium Bogoriense abad yang lalu. Saya mencoba mengkonfirmasi dengan cucu2 pak Toha, tetapi mereka tidak begitu tahu apa saja kegiatan alamarhum kakek mereka di Herbarium Bogoriense semasa hidupnya). Perang Dunia II berdampak besar sekali terhadap kajian botani di seluruh dunia. Banyak kebun botani, perpustakaan dan herbaria di Jerman, Inggris, Belanda, Korea, SriLanka, Filipina, dll. rusak atau bahkan musnah terbakar, dijatuhi bom atau akibat alih fungsi selama Perang Dunia II. Akan tetapi sejarah mencatat bahwa Kebun Raya Bogor, Herbarium Bogoriense dan lembaga-lembaga ilmiah dalam jajarannya, semua selamat dan mampu melanjutkan kegiatan ilmiahnya. Inilah modal awal Republik Indonesia dalam bidang botani yang diawaki oleh anak bangsa sendiri.

Pustaka Rujukan:

  1. Babad Kawoeng, manuskrip kuno, folklor, aksara Latin. Koleksi Perpustakaan Nasional R.I., Jakarta, Indonesia.
  2. Goss, A. (2011). The Floracrats: State-sponsored science and the failure of the Enlightentment in Indonesia. Disertasi. The University of Wisconsin Press, USA.
  3. Howard, R. A. (1994). The role of botanists during World War II in the Pacific theatre. The Botanical Review, 60 (2), 197-257. Arnold Arboretum, Harvard University, USA.
  4. Ligthart, Th., Hȍvig, P. & Rinkes D. A. (1926). De Indische Bodem. Bijzonderheden. Volkslectuur, Weltevreden, Nederlandsch – Indie. (dalam Bahasa Belanda)
  5. Mohri, H. (2019). Imperial Biologists: The Imperial Family of Japan and their Contributions to Biological Research. Springer Nature Singapore. Judul asli: Tennoke to Seibutsugaku, H. Mohri, 2015.
  6. Rijnberg, T. F. (1992). ‘s Lands Plantentuin Buitenzorg 1817 – Kebun Raya Indonesia, Bogor 1992. Johanna Oskamp, Nederland. (dalam Bahasa Belanda)

Gambar-gambar